Karakter Bunda Hajar dalam Mendidik

Karakteristik Bunda Hajar dalam menyelamatkan dan mengasuh putranya Ismail saat suaminya meninggalkannya di sebuah negeri yang "tak ada air dan tumbuhan padanya", dapat kita pelajari dai peristiwa Sa'i, yaitu peristiwa Beliau bolak-balik Shafa-Marwah mencari air. Diantaranya adalah :

*Tawakkal*, saat ia bicara pada suaminya : _"Pergilah. Niscaya Allah akan melindungi kami berdua"_

*Ihram*, yaitu mengharamkan (ihram = mengharamkan) untuk sementara waktu segala kenyamanan, selama sumber air (kehidupan) belum ditemukan

*Tanggung Jawab* akan nasib dan masa depan bayi yang dipercayakan padanya

*Nyali*, berupa keberanian untuk memikul resiko kehidupan di sebuah negeri tanpa penghuni.

*Visi*, naik ke tempat yang tinggi agar memiliki perspektif yang terbuka dan luas untuk menemukan sumber air

*Ikhlash*, karena Beliau mulai melangkah dari Shafa, yang artinya adalah "murni dan jernih"

*Istiqamah*, walau telah berkali-kali bolak-balik Shafa - Marwah dan tak bertemu air, ia tetap melewati rute tersebut, tanpa tergoda untuk mencari rute baru.

*Optimis*, walau telah berkali-kali menuju titik yang sama dan tak bertemu air, ia tetap menuju titik tersebut dengan optimisme _"Siapa tahu sekarang ini air betulan"_

*Kesediaan hidup fluktuatif*, karena rute Shafa - Marwah bukanlah rute datar, tapi rute fluktuatif naik-turun

*Pushing-up*, saat berada pada titik nadir (terendah) antara Shafa - Marwah, beliau tak putus asa, tapi justru mempercepat langkah. Dalam ibadah Sa'i ini disebut sebagai sunnah harwalah (berlari-lari kecil saat di titik terendah antara Shafa - Marwah)

*Kehormatan*, bahwa segala ikhtiar untuk mendapatkan air penghidupan adalah dalam rangka menegakkan Marwah atau kehormatan keluarga

*Tahallul*, baru menghalalkan (tahallul : menghalalkan) kembali kenyamanan hidup saat sumber air (penghidupan) telah ditemukan.

Diambil dr ust. Aad

Posting Komentar

0 Komentar