Di Pangkuan yang Tak Pernah Pergi



Matahari baru merangkak menuju puncaknya. Cahaya hangat menembus jendela, menyentuh lantai kamar dengan lembut. Angin pagi berembus pelan, seolah sedang menenangkan sesuatu yang sejak lama berisik di dalam dada. Detik jarum jam berjalan beraturan, tak tergesa, tak menunggu, mengantar waktu menuju perhitungannya sendiri.

Aku duduk di depan meja rias. Sebuah cermin bulat memantulkan bayangan wajahku. Kepala empat. Angka yang dulu terasa jauh, kini duduk manis di depan mata. Waktu rupanya tidak pernah bertanya apakah aku siap. Ia hanya berjalan, dan aku mengikutinya.

Kerutan di sudut mata itu bukan tamu yang kuundang, namun datang dengan caranya sendiri. Satu helai rambut putih menyelip di antara hitam yang mulai lelah. Aku menatapnya lama. Bukan dengan marah, bukan dengan sedih. Hanya sebuah pengakuan diam: aku telah melewati begitu banyak hari.

Hidup mengajarkanku menjadi kuat. Terlalu cepat, mungkin. Aku belajar berdiri sendiri sebelum sempat belajar bersandar. Aku terbiasa menahan, membungkus luka rapat-rapat, dan tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah pandai dengan romantisme. Bagiku, hidup adalah soal bertahan. Soal bekerja keras. Soal tidak merepotkan siapa pun.

Aku mengenakan topeng ketegaran itu terlalu lama, sampai lupa bagaimana rasanya melepasnya.

Aku terlihat kuat. Bahkan di mata orang yang seharusnya paling dekat. Terlalu kuat, hingga tak ada ruang bagiku untuk mengadu. Keluh kesah terasa tidak pantas untuk keluar dari bibir ini. Aku sendiri yang membangun dinding itu, dan kini aku terkurung di dalamnya.

Belakangan, hidup terasa seperti badai yang tak sempat kuantisipasi. Aku diayun, digampar, dilempar oleh kenyataan. Datang bertubi-tubi. Aku berusaha tetap berdiri, tapi ada saat di mana napas terasa pendek. Dada sesak oleh lelah yang tak pernah sempat diceritakan.

Aku ingin merebahkan kepala. Hanya sebentar. Di dada seseorang. Di tempat yang aman. Namun aku terlambat menyadari, tak ada yang berani mendekat. Aku terlalu kuat untuk didekati, terlalu utuh untuk ditanya apakah aku baik-baik saja.

Penyesalan itu datang lirih: mengapa dulu aku tidak memberi ruang? Mengapa aku begitu takut membuka hati? Mengapa aku memilih terlihat tangguh, alih-alih jujur tentang rapuh?

Lalu, di tengah sunyi itu, sebuah kesadaran menyentuhku pelan.

Aku tidak pernah benar-benar sendiri.

Ada saat-saat di mana aku merasa kuat tanpa tahu dari mana datangnya kekuatan itu. Ada malam-malam di mana aku selamat tanpa tahu siapa yang menjagaku. Kini aku paham. Selama ini, tanpa kusadari, aku telah merebahkan kepalaku di pangkuan Sang Khalik.

Dialah yang memelukku saat dunia terlalu keras. Dialah yang menenangkan ketika aku tak punya siapa-siapa. Dalam diam, aku dihibur. Dalam lelah, aku dijaga.

Aku menatap kembali bayangan di cermin. Wajah ini tidak sempurna, tidak muda, tidak selalu bahagia. Tapi ia masih berdiri. Dan hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mengizinkan diriku untuk tidak sepenuhnya kuat.

Karena ternyata, aku aman. 

Posting Komentar

0 Komentar