Selasa, 27 Juni 2017

Kembali ke Fitrah

💦❄💦❄💦❄💦❄💦❄💦

*Kembali ke Fitrah adalah kembali ke Titik Tumpu untuk Memacu Tugas*
_Oleh: Harry Santosa_

"Barangsiapa menjalani jalannya maka akan sampai kepada tujuannya" (pepatah bijak)

Allah telah memberikan setiap orang jalan hidupnya, namun tidak setiap orang jujur menyambut panggilan hidupnya. Perjalanan hidup yang panjang sering membuat hati manusia menjadi keras sehingga banyak manusia menyimpang dari jalan Takdir nya. Padahal inilah tugas atau peran spesifiknya di dunia.

Kitabullah sesungguhnya memandu manusia secara eksternal agar jangan menyimpang dari panggilan hidupnya. Kitabullah juga memberi tahu bahwa secara internal manusia telah diinstal FITRAH yang merupakan benih benih yang menyimpan tanda unik dan potensi unik untuk menjalani panggilan hidupnya sesuai maksud penciptaannya.

Jika Kitabullah memandu dari luar diri manusia, maka FITRAH memandu dari dalam diri manusia. Karenanya Ibnu Taymiyah menyebut Kitabullah sebagai Fitrah munazalah atau fitrah yang diturunkan, sementara fitrah yang melekat dalam diri manusia disebut Fitrah Gharizah.

Fitrah gharizah atau fitrah yang terinstal dalam diri manusia inilah yang merupakan potensi atau yang memberi tahu apa sesuangguhnya tugas spesifik manusia di muka bumi untuk memenuhi maksud penciptaan. Sayangnya, seringkali rutinitas kehidupan beserta perhiasannya membuat manusia kecanduan, sehingga tidak menyadari fitrahnya bahkan menyimpangkannya.

"Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menjadikan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas Ciptaan atau Fitrah Allah" QS 30:30

Jadi Fitrah sesungguhnya berlaku tetap, tidak bisa berubah, hanya saja manusia seringkali menyimpangkannya bahkan menguburnya dengan berbagai aktifitas mengejar kebahagiaan semu namun pada hakekatnya menjauh dari kebahagiaan sejati karena menjauhi fitrahnya. Semakin mendekat ke fitrahnya, semakin berbahagialah manusia.

Maka secara simbolik, ada ritual Shaum dan Amaliah lainnya di bulan Ramadhan agar manusia kembali ke fitrahnya, diharapkan amal amal Ramadhan membawanya kembali kepada Taqwa, sebuah terminal untuk fokus pada tugas atau panggilan, dan hati hati pada larangan yang menipu dan mengganggu tugas atau panggilan Allah.

Ramadhan, secara disposisi, juga mengembalikan manusia kepada disposisi awal yaitu Fitrah. Inilah titik tumpu untuk berpacu pada 11 bulan lainnya. Inilah titik tumpu penemuan kesadaran peran kita di muka bumi.

Esensi Kembali ke Fitrah

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Keimanan dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk taat kepada Allah dan sekaligus menyambut peran atau panggilan hidup untuk menyeru Tauhidullah

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Belajar dan Bernalar dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk meneliti dan mentadaburkan ayat Kauniyah dan ayat Qouliyah dan sekaligus menyambut peran atau panggilan hidup untuk berinovasi memakmurkan bumi dan melestarikannya

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Bakat dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk berperan, beramal dan berkarya sesuai passion serta sekaligus menyambut peran atau panggilan hidup dalam bidang bidang kehidupan yang dibutuhkan ummat dan zaman

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Keperempuanan atau Kelelakian dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk berperan sesuai gendernya serta sekaligus menyambut peran atau panggilan hidup untuk menjadi Ayah Sejati dan Ibu Sejati yang berani mendidik fitrah anak anaknya.

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Individualitas dan Sosialitas dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk berperan secara personal maupun komunal serta sekaligus menyambut peran atau panggilan hidup untuk siap menjadi Imam dan Makmum, Leader dan Follower yang jika diperlukan.

Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada Kesadaran adanya Fitrah Estetika dan Bahasa dalam diri. Kesadaran adanya ghirah dan kecintaan yang menggebu untuk harmoni, damai, kehidupan seimbang dan bermakna sekalgus menyambut peran atau panggilan hidup untuk membuat peradaban menjadi indah, damai, harmoni dan penuh makna

Bagi yang kembali kepada fitrah, seolah telah menemukan apa yang terkubur selama ini di bawah perut bumi, maka bayarkanlah Zakat Fitrah
Bagi yang kembali kepada fitrah, seolah seperti menemukan jalan membentang di hadapan menuju tujuan, maka ucapkanlah selamat berbahagia dan doakanlah agar diterima amalnya

Mari jadikan Kembali ke Fitrah, 1 Syawal sebagai titik tumpu untuk berpacu menjalani semua panggilan hidup di atas, lalu jadikan Taqwa sebagai pengawalnya agar fokus, berani, konsisten, persisten dan resisten menempuhnya sehingga sampai ke tujuan.

Selamat Berbahagia di Hari Raya Iedul Fitri, 1438H
Taqobalallhu minn waminkum, Taqobalallahu ya Kariiim...

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sabtu, 24 Juni 2017

Membaca Bersama Kakak

Hari ini Ramadhan terakhir di tahun ini. Artinya besok kita merayakan Idul fitri. Tentu saja hari ini akan dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan di rumah. Mulai dari pembersihan rumah, masakan masakan lebaran pun perlu dipersiapkan hari ini. Segala macam persiapan terakhir sebelum Lebaran.
Walau penuh dengan kesibukan, akan tetapi kegiatan membaca harus tetap dilakukan. Jangan sampai terlewat. Hari ini Ghazy ada di rumah, dia bisa membantu Fawwaz membacakan buku yang disukainya. Menggantikan tugas saya yang full di dapur.
Fawwaz memilih buku Semar sebagai bahan bacaan. Salah satu buku favoritnya. Di dalam buku tersebut dijelaskan tentang asal usul Semar, keluarganya, serta mitos mitos yang melatar t. . Tapi bukan hal itu yang menarik buat Fawwaz.
Foto foto semar dari berbagai daerah, dengan berbagai bentuk, nama, dan cerita yang berbeda. Foto foto itulah yang membuatnya betah membaca. Sayup sayup terdengar mereka saling bercerita tentnag foto foto yang terpampang. Cerita menurut imajinasi mereka tentu saja. Karena bahkan mereka melewatkan tulisan tulisan artikel di buku tersebut. Gambar saja yang membuat mereka tertawa, bercerita dan bergembira

Jumat, 23 Juni 2017

Belajar "berbicara"

Hari ini, hari keenambelas membiasakan Fawwaz membaca. Sebuah kebiasaan baru yang menyenangkan. Makin lama makin mudah mengajaknya membaca.
Beberapa hari ini, swngaja saya mulai mereview buku buku yang sudah dibaca. Buku buku tipis yang banyak gambar.
Tujuannya adalah membiasakannya berbicara. Mengajaknya untuk membacakan cerita versi dia.
Hari ini kami membaca kembali buku "aku bisa bangun pagi"
Cerita Fawwaz cukup menarik dan masih on the track. Walau dia tidka mengingat nama nama tokoh dalam buku. Menggantinya dengan bahasa "kaka dan ade" saja.
Bagaimana pun, sudah baik. On the track. Tinggal mmeperbanyak perbendaharaan kosakata dan mengajaknya untuk lebih banyak berimajinasi dan liar.
Tadi saat bercerita, Fawwaz akhirnya lebih banyak berbicara bagaimana agar dia bisa bangun pagi, dan apa yang akan kami lakukan di pagi hari.
Besok kita coba lagi buku lainnya.

Kamis, 22 Juni 2017

Hubungan Belajar Membaca dengan Bahasa Kasih

Apakah sekrang setelah beberapa hari ini Fawwaz sudah betul betul tertarik dengan buku? Apakah dia benar benar selalu minta dibacakan buku?
Jawabannya adalah tidak selalu. Ketika dia memiliki hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan, maka dia akan melakukan hal lain. Misal bermain dengan lego legonya, main mobil2an, atau sekedar bermain bola.
Apalagi jika ada kakaknya di rumah. Dia lebih tertarik bermain dengan kakaknya.
Tetapi ada beberapa hal yang selama ini selalu beehasil saat mengajak dia membaca.
Jadi, saat waktunya membaca buku (sebelum tidur) ambil saja buku yang menarik. Kemudian duduk di dekatnya, dudukan dia dipangkuan kemudian bacakan cerita. Dia selama ini tidak pernah menolak cara cara seperti itu.
Apalagi sentuhan adalah bahasa cinta yang lebih dominan bagi Fawwaz. Jadi saat kita mendekap, mendudukannya di pangkuan, membacakan buku. Tentu sjaa dia tidak akan menolak.
Seperti malam ini, kami membaca buku hikayat Anjing dan Kuda.

Rabu, 21 Juni 2017

Menceritakan kembali

Kegiatan membaca bagi Fawwaz saat ini adalah bagian dari latihan mendengarkan. Mendengarkan cerita, mendengarkan dengan seksama.
Awalnya agak sulit membuatnya duduk dan mendengarkan cerita dari buku. Hari demi hari kemampuan itu meningkat. Hingga kini Fawwaz sudah betah duduk mendengarkan 2 buah buku tipis dalam satu waktu.
Apakah itu artinya kemampuan mendengarnya sudah baik? Belum. Tapi bukan berarti tidak perlu dinaikkan kemampuannya menjadi bercerita. Bagaimana pun mendengar dan bercerita adalah dua kemampuan yang saling mendukung.
Untuk melakukan hal itu, yang saya lakukan adalah membacakan buku ceeita yang telah dibaca. Malam ini buku "membereskan mainan sendiri" menjadi pilihan bersama.
Pertama, saya yabg membacakan. Selanjutnya tanya jawab untuk memastikan Fawwaz memahami cerita buku tsb. Lalu, selanjutnya saya memancing Fawwaz untuk membqcakan cerita tsb dengan versinya.
Masih dengan kalimat yang pendek pendek, tetapi telah menkadi sebuah cerita. Permulaan yang baik untuk hari ini.

Selasa, 20 Juni 2017

Jagad dengan Bintang Kuning

Hari ini, setelah beberapa hari di Jogjakarta baru bisa sempat menempelkan bintang bintang litersi guna menerangi jagad literasi rumah bintang.
Bintang bintang kami bawa ke Jogja untuk ditulisi. Dan baru ditempelkan hari ini. Agak kaget juga saat menempel. Karena ternyata  bintang warna kuning milik Fawwaz menguasai jagad literasi kami. Walau beberapa kali membaca buku yang sama, tapi dia juga membaca tidak hanya satu buku sehari.
Kaka hanya mendapat 3 bintang karena memang dia keburu pergi lagi iktikaf di mesjid 10 hari terakhir ini.
Aku sendiri hanya memiliki beberpa bintang. Ya, karena untuk satu judul buku yang sama, aku hanya ingin menulikannya di satu bintang saja, walau dibaca beberapa hari.
Hari demi hari keinginan Fawwaz membaca makin tunggi. Dia sudah mau duduk dan mendengarkan cerita dari buku dengan rentang waktu yang lebih lama. Paling tidak sehari bisa membaca 2 buah buku tipis.
Kemampuan mendengarnya sudah lebih meningkat.
Hari ini Fawwaz membaca buku "aku senang merapikan mainan" yang langsung berhasil membuat dia mau membereakan mainan nya sendiri.
Dan "aku suka bangun pagi"
Sedangkan aku hari ini membaca "Madre" karya Dee lestari juga "Filosofi Kopi" dari pengarang yang sama.
Buatku jika sudah kecanduan buku, itu pertanda menuju sesuatu uang lain hahaha...
Yang pasti, aku berharap Fawwaz dapat mengikuti jejak ku dlaam mencintai buku

Senin, 19 Juni 2017

Kecanduan Buku

Beberapa hari telha berlalu dari awal pertama membiasakan membaca buku bersama Fawwaz.
Awal tidak berjalan mulus. Dia yang kinestetik tidka betah lama lama dengan buku. Plus dia memang dari awal kurang suka dengan buku.
Beberapa hari berjalan, saya berusaha memahami apa yang dia inginkan dari sebuah buku. Berusaha tiap hari agar dia mau duduk walau hanya 5 menit membaca buku tipis bersama.
Hari ke dua belas. Fawwaz mulai suka bertanya jika sejarian kita belum buka buku. Penasaran, atau ketagihan
Walau memang yang dia baca belum banyak. Belum kuat lama lama duduk dan mendengar.
Swperti hari ini, Fawwaz sendiri yang memilih buku untuk dibaca bersama. Satu buku yang kemari lagi. "Aku cinta membaca" dan satu lagi buku "2 ekor tikus"
Sesangkan saya masih berkutat dengan buku "hujan" bang tere liye.
Kaka tidak ikut laporan. Dia sedang sibuk di tempat iktikaf. Dan papa belum.juga pulang

Minggu, 18 Juni 2017

Membaca di Bus

Hari ini kami dalam perjalanan kembali pulang ke Purwokerto. Perjalanan naik bus Efisiensi berlangsung selama 5 jam kurang lebih. Waktu yang cukup lama untuk hanya digunakan untuk sekedar melamun dan tiduran. Membaca buku tentu akan sangat menyenangkan.
Banyak buku yang dibeli di Shopping kemarin cukup sebagai bekal selama perjalanan.
Kali ini kaka berkutat dengan komik yang baru dibelinya. Ornage Marmalede. Sebuah komik yang bergenre remaja. Juga berwarna. Sunguh menarik, sayang belum sempat mmebacanya.
Ade sempat membaca sebuah buku berjudul "aku suka membaca buku". Hanya satu buku tipis, tapi sudah cukup baginya untuk membuatnya makin sayang membaca. Lainnyadia lebih suka bermain kesana kemari, sibuk dengan permainanya sendiri.
Saya...
Novel hujan bang Tere Liye sanggup membuat tenggelam dalam sebuah dunia yang aneh di masa depan.
Membaca, dimana pun itu selalu membawa pada sebuah dunia baru, yang tidak ingin ditinggal begitu saja.
Dan kabar baiknya, hari ini saat berkunjung ke rumah mba Evin saya mendapatkan beberapa novel pinjama. Novel novel Dee Lestari yang manis.
Selamat membaca...

Membaca di Bus

Hari ini kami dalam perjalanan kembali pulang ke Purwokerto. Perjalanan naik bus Efisiensi berlangsung selama 5 jam kurang lebih. Waktu yang cukup lama untuk hanya digunakan untuk sekedar melamun dan tiduran. Membaca buku tentu akan sangat menyenangkan.
Banyak buku yang dibeli di Shopping kemarin cukup sebagai bekal selama perjalanan.
Kali ini kaka berkutat dengan komik yang baru dibelinya. Ornage Marmalede. Sebuah komik yang bergenre remaja. Juga berwarna. Sunguh menarik, sayang belum sempat mmebacanya.
Ade sempat membaca sebuah buku berjudul "aku suka membaca buku". Hanya satu buku tipis, tapi sudah cukup baginya untuk membuatnya makin sayang membaca. Lainnyadia lebih suka bermain kesana kemari, sibuk dengan permainanya sendiri.
Saya...
Novel hujan bang Tere Liye sanggup membuat tenggelam dalam sebuah dunia yang aneh di masa depan.
Membaca, dimana pun itu selalu membawa pada sebuah dunia baru, yang tidak ingin ditinggal begitu saja.
Dan kabar baiknya, hari ini saat berkunjung ke rumah mba Evin saya mendapatkan beberapa novel pinjama. Novel novel Dee Lestari yang manis.
Selamat membaca...

Sabtu, 17 Juni 2017

Membaca buku di Malioboro

Wuis romantis abis bok...
Asli, beneran romantis sangat. Awalnya hanya beeniat ngabuburit di Malioboro. Terus, karena udah capek jalan sana sini kita meplipir nyari tempat duduk. Malioboro sekrang tempat duduknya nyaman banget. Enak buat duduk duduk sore.
Adek ngejar ngejar balon gelembung yang ditiup penjualnya. Kaka duduk disebwlah sambil membaca komik hantu yang baru dibelinya.
Saya berkutat dengan "Tentang Kamu" nya bang Tere Liye. Awalnya berfikir novel ini serupa dengan novel novel cinta kebanyakan. Ternyata tidak. Di dlaamnya ada cerita tentang intrik, spionase, dan perjalanan hidup seorang manusia.
Sesekali memperhatikan si kecil yang asyik berkejaran kesana kemari. Kaki kaki kecilnya lincah mengejar gelembung gelembung sabun yang masih terus berterbangan. Hingga di suatu titik dia menyelusupkan kepalanya ke pangkuan. Rupanya dia lelah. Tidak sampai hitungan menit sampai matanya tertutup dan tidur dengan lelap. Ah damainya...

Tidak lama adzan Maghrib berkumandang dari kejauhan. Sejenak saya dan Ghazy berdoa dan membatalkan puasa. Hari ini, kami berbuka puasa hanya dengan sebotol air mineral dingin, dan dua bab novel tere liye.
Di sela sela waktu berbuka Ghazy bercerita, bahwa dia sangat menikmati saat seperti ini. Duduk, membaca buku di pelataran Malioboro. Menurutnya itu romantis, sexi. Dia berharap kelak akan dapat merasakan hari hari seperti itu lagi.
Percakapan mengalir, tentang keinginannya, passion nya di masa depan. Keinginan nya menjadi traveller.
Kemudian ide nya untuk membuat hall of fame. Ternyata dia memimpikan membuat dinding penghargaan di kamarnya. Ya ampun, gak pernah menyangka ternyata dia menginginkan hak yang telah lama saya inginkan. Insyaallah akan segwra di eksekusi.

Jumat, 16 Juni 2017

Membaca di Toko Buku

Hari ini kami ingin membaca dengan cara yang lain. Apalagi hari ini kami sedang berada di Jogjakarta, tanpa membawa buku buku favorit kesini. Hari ini justru kami putuskan untuk berbelanja buku ke pasar shoping yang terkenal dengan buku murahnya. Beberapa buku kami dapatkan disana. Sebuah buku Tere liye ditambah beberapa buku balita cerdas buat Fawwaz. 

Sayangnya, kaka belum mendapatkan buku yang diinginkan, karena itu kami memutuskan untuk mengunjungi Gramedia terdekat untuk mencari buku disana. 

Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat kami sampai di Gramedia. Banyak buku buku keren disana. Sayang, gak banyak diskonnya heuheu...

Emak agak mikir panjang kalo belanja buku disini. 

Tapi bukinya asli keren keren. Sambil nunggu kaka yang masih hunting hunting buku, emak manggil Fawwaz ke pojokan buku anak. Ada sebuah buku yang menarik disana. Judulnya "pasukan corat coret". Ceritanya tentang pinsil dkk yang terjatuh ke bawah meja, dan tidak dihiraikan oleh anak perenpuan pemiliknya. 

Keren nih cerita. Sekalian menumbuhkan insight Fawwaz tentang pentingnya berhati hati dna merawat hak miliknya, termasuk mainan agar tidak menghilang tak tentu arah.

Beberapa buku lain pun sempat kami jelajahi juga disana. Lumayan deh, walau belum bisa beli bukunya secara langsung. Mininal sudah bisa membacanya. 

Kembali ke Fitrah

💦❄💦❄💦❄💦❄💦❄💦 *Kembali ke Fitrah adalah kembali ke Titik Tumpu untuk Memacu Tugas* _Oleh: Harry Santosa_ "Barangsiapa menjalani ...