Blog ini akan berisi catatan, keseharian, cerita motivasi, hal hal seru lain nya. tentang Cinta, Cita, Kebahagiaan, dan keseharian

Jumat, 20 Juli 2018

Mengisi maturity level 3 Fitrah Keimanan

Hari ini saya mencoba memberi test sesuai dengaan maturity level 3 bagian fitrah keimanan pada ibu ibu di rumah bintang. Dan ternyata hasilnay sangat mengejutkan. Banyak yg mengisi rata2 skor 1 atau 2. Tapi, saat dicoba mengisi level dibawahnya, semua sepakat hasilnya diatas 3. Artinya ada sesuatu yg salah. Ada missing link disana.
Setelah dicoba di emphaty. Diajak diskusi
Ternyata banyak yg salah persepsi dengan kalimat2 dakwah dan menyeru oda kebenaran disini. Mereka memahami dakwah dengan hal yg rigid dan berat. Padhal kenyataannya tidak. Dakwah itu artinya menyeru pada kebaikan. Ammar ma'ruf nahi munkar. Sekecil apapun itu.
Setelah di define akhirnya keluarlah ide ide. Muncul beragam gagasan, muncul beragam  pengakuan. Bahwa mereka sebetulnya sudah berdakwah walau dalam skala kecil. Walau dalam bentuk yg berbeda. Berikut adalah catatn maturity level 3 dan 2 fitrah keimanan.

Indikator Fitrah keimanan level 3

1. Merancang projek Dakwah
💝 :
👩🏻‍🔧 :

2. Membuat perubahan di masyarakat sesuai kebenaran
💝 :
👩🏻‍🔧:

3. Memiliki pendamping keimanan/murrobbi
💝
👩🏻‍🔧

4. Menjadi aktifis mesjid atau rohis atau organisasi
💝:
👩🏻‍🔧:

5. Menyelesaikan masalah ummat di sekitar
💝
👩🏻‍🔧

6. Menerima ujian atau kesulitan atau tantangan dalam keimanan
💝:
👩🏻‍🔧:

Keterangan:
💝 antusias
👩🏻‍🔧eksis
Skor maisng masing antara 1-5

Indikator Fitrah Keimanan level 2

1. Melakukan taddabur di alam
💝
👩🏻‍🔧

2. Meneladani Aktivitas Rasulullah SAW dan para sahabat
💝
👩🏻‍🔧

3. Melakukan aktivitas ibadah ritual atau keagamaan
💝
👩🏻‍🔧

4. Melakukan ketaatan sebagai sebuah kesadaran
💝
👩🏻‍🔧

5. Mengajak teman atau sekitar kepada kebenaran atau keadilan
💝
👩🏻‍🔧

6. Menolak kebathilan atau perbuatan buruk
💝
👩🏻‍🔧

💝 antusias
👩🏻‍🔧eksis
Skor 1-5


Share:

Kamis, 19 Juli 2018

Mengasah Rasa dan Perasaan

Pemateri: Ust Adriano Rusfi
Tema:  *Madrasatul Walidain  4*
*"Mengasah rasa dan perasaan"*

Admin: Ummu Rahiel/ Bunda Cut
Host : Bunda Ira
Co host: Ummu Rahiel
Notulen: Bunda Puput

🎓 Profil

👤 Nama : Adriano Rusfi
🔹Tempat & Tanggal Lahir: Bukit tinggi, 4 Maret 1964
🔹Pendidikan Terakhir: Psikologi, UI
🔹Domisili: Yogyakarta
🔹Ayah dari 4 orang anak
🔹SME Utama HEbAT Community

🔻Aktivitas Beliau antara lain :
* 1989 – 1992  Pimpinan Umum Majalah Wanita UMMI
* 1994 – 1995  Ka. Div Program P3UK
* 1995 – 1998  Direktur Program Sinergi Indonesia
* 1998 – 2002  Direktur Program INVENTRA
* 2002 – 2004   Direktur Utama PT. Sajadah Edutama Indonesia
* 2005 – 2007   Learning Manager PT. NSI Edukomunikasi
* 1995 – skrng  Konsultan SDM & Pendidikan independen
* 2000 - sekarang Konsultan Senior @PPSDM Consultant
* Anggota Dewan Pakar Masjid Salman ITB

📗*Materi*📗

Bunda sekalian, salah satu kekuatan utama yang dimiliki oleh para Bunda adalah rasa dan perasaan. Jika nalar dan pemikiran adalah aset generik kaum laki-laki, maka sebenarnya yang lebih luar biasa lagi adalah kepemilikan atas aset rasa dan perasaan.

Orang-orang yang lemah dalam rasa dan perasaan akan memiliki sejumlah masalah dalam hidup ini. Mereka menjadi tumpul dalam mencium aura. Andai kita memiliki penciuman dan perasaan yang tajam, sungguh kita dapat merasakan auranya orang jahat, auranya orang baik, auranya orang tulus, aura orang-orang yang memiliki hidden agenda, dan sebagainya

Mungkin banyak diantara kita yang kurang paham bahwa penolakan terhadap sang penista agama bukan semata-mata karena ia kafir dan bersuku Tionghoa, tapi lebih banyak disebabkan karena pancaran aura psikologisnya begitu tak sedap untuk dicium. Dalam bahasa agama, aura tersebut dinamakan sebagai ruh atau spirit.

Kemudian, dengan perasaan yang tajam kita bahkan bisa merasakan sesuatu yang janggal, atau sesuatu yang tak pantas yang dilakukan di sekitar kita. Mungkin Secara indrawi kita tak dapat mengetahuinya, tapi dengan menggunakan rasa kita bisa mencium dan mengantisipasinya.

Misalnya ketika tetangga di sebelah kita ternyata adalah orang-orang yang berniat buruk untuk menebar teror. Bisa saja mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, tapi ketajaman rasa akan membuat kita bisa mengetahui sesuatu yang tak baik di balik tembok.

Rasa juga sangat berguna pada saat panca indra kita tak dapat lagi diandalkan. Misalnya, saat malam gelap dan kita harus mencari sesuatu yang hilang. Saat itu kita tak dapat lagi menggunakan mata, tapi kita masih bisa mengandalkan rasa. Pada saat kita pilek, mungkin kita tak bisa mencium bau busuk. Tapi percayalah, rasa yang tajam masih bisa menggantikan hidung yang pilek.

Di sisi lain, ketika kita telah menumpulkan rasa dan perasaan kita akibatnya adalah kita gagal merasakan, tak punya perasaan, atau bahkan hilang kepekaan.

Rasa dan perasaan sangat berguna dalam hidup ini untuk membaca tanda-tanda dan isyarat-isyarat semesta. Karena sebagian besar informasi semesta kepada kita adalah lewat tanda dan isyarat. Sedangkan tanda dan isyarat itu seringkali tidak dapat kita tangkap lewat panca indra. Kita hanya bisa menangkapnya lewat rasa.

Kedua, rasa dan perasaan dapat kita gunakan pada fase-fase pra logika. Sebelum logika dapat kita gunakan untuk memahami sesuatu, maka sebenarnya merasa sudah dapat kita andalkan untuk memahaminya.

Banyak Orang beranggapan bahwa benar dan salah adalah urusan logika. Padahal dalam banyak hal benar dan salah itu dapat kita rasakan. Kadang-kadang kita bisa menyaksikan bahwa dengan logika orang dapat menyampaikan argumentasi argumentasi yang ia sebut sebagai kebenaran. Tapi kita dapat merasakan :  walaupun pendapat tersebut penuh dengan argumentasi perasaan kita mengatakan ada yang tak tepat dari pernyataan dan argumentasinya

Yang ketiga, dalam hidup ini kita sebenarnya menjalaninya lewat kepercayaan dan keyakinan. Kita makan di sebuah restoran karena kita yakin makanan didalamnya tak beracun. Ketika kita naik kendaraan kita yakin bahwa kendaraan itu baik dan akan membawa kita ke tujuan. Ketika kita duduk disebelah orang lain, kita sebenarnya bermodal yakin bahwa orang tersebut bukan orang jahat.

Kemudian yang keempat, dengan perasaan kita jadi memiliki kepekaan dan sensitifitas terhadap sesuatu. Kita bahkan bisa memberi tanpa diminta, memenuhi kebutuhan sebelum diucapkan. Kita dapat membaca bahasa tubuh  raut muka  tatapan mata, dan sebagainya. Sehingga dengan rasa kita menjadi lebih responsif dan lebih antisipatif.

Perasaan dapat membuat kita terhindar dari marabahaya. Ketika kita memiliki ketajaman rasa untuk melakukan antisipasi atas sesuatu yang akan terjadi

Dan pada akhirnya terlalu banyak dalam hidup ini hal-hal yang bersifat non empirik dan materialistik. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan lebih tepat kita sikapi dengan rasa dan perasaan.

📖 *Pertanyaan dan diskusi*

1⃣ *Merie di ulee* kareng(anak 2 tahun)
Suka banget nyakar2 muka yg gendong, dan suka cakar kawan mainnya yg lebih pendiam atau yg usianya dibawah dia, sudah dibilang berkali2 untuk sayang sama sesama tapi tetap seperti itu juga belum ada perubahan, bagaimana cara menumbuhkan *rasa* sayang itu?
Apakah dengan hukuman boleh? Hukuman seperti apa?

*Ust. Adriano Rusfi*
Pada dasarnya anak yang berusia 2 tahun perilakunya lebih banyak dipengaruhi oleh contoh-contoh yang ada di sekitarnya. Dia juga berkembang menjadi agresif karena ada ketidakseimbangan di dalam dirinya

Oleh karena itu yang pertama kali harus dikembangkan rasanya  terutama rasa sayang  adalah lingkungan terdekatnya, terutama kedua ayahbundanya.

Terkadang anak yang berusia 2 tahun menampilkan perilaku agresif lebih karena berkembangnya konsep diri dan egonya. Biasanya pada anak semacam ini agresivitas itu akan memudar dengan sendirinya.

Agresivitas pada anak berusia 2 tahun juga dapat saja disebabkan karena kecemburuannya terhadap saudaranya sendiri, baik kakaknya maupun adiknya. Ia merasa terabaikan atau mendapatkan saingan, sehingga memunculkan perilaku-perilaku marah dalam bentuk agresi terhadap orang lain

Apakah anak semacam ini dapat dimarahi atau dihukum  ?

Secara umum belum dapat. Namun jika fitrah ayah dan bunda mulai merasa jengkel terhadap perilakunya, maka silakan dimarahi. Tapi tidak perlu menggunakan hukuman-hukuman yang bersifat fisik.

Sedangkan hal terbaik yang dapat dilakukan adalah : penuhilah rumah kita dengan rasa cinta

2⃣ *Laila, pango raya*
1.Gimana cara mengasaha RASA kita dan anak usia 3 thn.

2.Gimana cr bedain rasa dan prasangka😊

*Ust. Adriano Rusfi*
1. Mengasah rasa anak adalah dengan mengijinkannya untuk mengembangkan kekayaan rasanya. Untuk menjadi manusia yang ekspresif, biarkan ia tertawa ketika senang, menangis ketika sedih, geram ketika kecewa, marah terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak adil. Ini adalah bagian dari pendidikan untuk memperkaya rasanya.

Rasa anak juga akan menjadi lebih kaya, kalau kita sebagai orang tua juga mengekspresikan rasa kita terhadap mereka dan lingkungan. Jangan menjadi orang tua robot yang selalu menyimpan rasa dan tak berani mengekspresikannya. Ayahbunda yang baik adalah ayahbunda yang marah jika memang merasa perlu untuk marah, senang jika memang merasa perlu untuk senang, mau mengucapkan terima kasih ketika ada hal baik yang ia terima, dan seterusnya. Termasuk berkata jangan kepada anak, ketika dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya

2. Prasangka adalah bagian dari rasa, dan itu adalah hal yang positif untuk dikembangkan. Namun yang harus kita kembangkan adalah baik sangka, bukan buruk sangka

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada materi pendahuluan di atas  prasangka adalah sesuatu yang bersifat pra-logika, dan itu adalah bagus. Tinggal bagaimana kedepannya kita lebih mampu mengembangkan sangka-sangka yang positif alias baik sangka.

Untuk mengasuh rasa pada diri sendiri, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, jangan pernah terlalu bergantung kepada panca indera. Dalam banyak kesempatan cobalah gunakan rasa sebelum menggunakan panca indra. Terkadang tutuplah mata kita agar kita mengakses lingkungan hanya dengan rasa

Kita juga bisa memanfaatkan malam untuk mengasah rasa. Karena pada saat itu mata kita tak terlalu tajam berfungsi. Kemudian rajin-rajinlah melakukan kontemplasi, perenungan,penghayatan terhadap sebuah peristiwa. Orang yang rajin melakukan kontemplasi rasanya akan baik. Makanya Islam menyatakan malam hari adalah saat yang tepat untuk melatih jiwa.

Selanjutnya kita juga dapat menjadikan kulit kita sebagai panca indra sekaligus alat perasa kita. Mari kita rasakan saat kulit kita merinding, saat bulu roma kita berdiri, dan sebagainya

Hal lain yang dapat kita lakukan adalah membiasakan diri untuk membaca tanda-tanda dan isyarat isyarat semesta. Kebiasaan untuk melakukan hal ini akan membuat rasa dan perasaan kita menjadi lebih peka.

Lalu beraktivitaslah di alam bebas, melalui kegiatan berkemah, outbound, penjelajahan dan sebagainya. Di alam bebas rasa kita lebih terasah

Jangan juga dilupakan bahwa rasa dapat dikembangkan lewat bahasa. Mereka,-mereka yang bahasanya bagus, tutur katanya santun, bahkan menguasai bahasa sampai level sastra, akan memiliki rasa dan perasaan yang baik.

Dan yang terakhir : sering-seringlah bersentuhan dengan dunia seni, karena dunia seni adalah dunia yang sangat mendidik rasa

3⃣ *Mely, Ulka.*

Bagaimana memenej prasangka.Kadang kala bagi orang yang deleberative nya tinggi kerap berpangsangka yg tidak baik duluan. Meski hal itu tidak terlanjur untuk disampaikan pada orang lain, tapi sering mengganggu emosional nya sendiri.

*Ust. Adriano Rusfi*
Prasangka itu merupakan bagian dari rasa. Dia bersumber dari hal yang satu, kemudian dia berkembang menjadi baik sangka dan buruk sangka.

Itu lebih tergantung dari nilai-nilai yang kita miliki. Jika nilai-nilai yang kita miliki positif, maka yang berkembang adalah baik sangka. Namun jika nilai-nilai yang kita miliki adalah negatif, maka yang berkembang adalah buruk sangka.

Jadi sekali lagi, bukan rasa dan prasangkanya yang harus kita benahi, tapi bagaimana nilai-nilai itu terbentuk dalam diri kita.

Nilai-nilai yang positif dan negatif itu juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman hidup kita, dan kesimpulan kita terhadap pengalaman tersebut itu. Maka membangun prasangka yang positif harus kita mulai dari :

Pertama : berbaik sangka kepada Allah

Kedua berbaik sangka kepada diri sendiri, dan

Yang ketiga : berbaik sangka terhadap kehidupan

4⃣ *Laila_Ateuk Jawo*

1.Bagaimana mengajarkan anak sulung mengelola ego-nya?.
Ego ingin dihargai, dinomorsatukan, kompetitif?.

2. Wajarkah jika sebagai ibu yg peka "rasa" kita pernah luka oleh sikap dan kata ananda?. Walaupun dalam hati kecil kita menghiba pada   Rabb kita bahwa sesungguhnya kita Ridho pada ananda?.
Atau si ibu yg baperan?

*Ust. Adriano Rusfi*
1. Jika si sulung usianya masih dibawah 7 tahun, biarkan dia mengekspresikan egonya. Jika egonya memang berlebihan, biarkan dia berinteraksi dengan ego-ego orang lain, termasuk dengan ego orangtua dan saudara-saudaranya sendiri.

Ingin dihargai  dinomorsatukan, kompetitif, bukankah pada dasarnya itu adalah hal yang positif. Jangan sampai kita merusak ego anak yang berusia dibawah 7 tahun, karena ego tersebut kelak sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya diri, berani tampil beda, tandang ke gelanggang walau seorang,  mampu berkata tidak, mempengaruhi orang lain dan sebagainya.

Seorang ibu yang peka rasa adalah wajar, bahkan kepekaannya itu perlu ditularkan kepada anak-anaknya. Karena rasa sangat penting bagi masa depan anak-anak kita dalam menjalani kehidupannya

Ada perasaan terluka terhadap sikap anak kepada kita adalah hal yang wajar. Dan kalau perlu kita ekspresikan rasa terluka tersebut.

Tapi jangan lupa juga : betapa kita juga sering sadar atau tak sadar telah melukai anak-anak kita. Akan sangat berbahaya ketika luka itu kita ciptakan saat dia berada di bawah 5 tahun.

Oleh karena itu, belajarlah memaafkan, agar kita pun dimaafkan. Tak tertutup kemungkinan luka yang kita buat jauh lebih banyak daripada luka yang kita terima.

Dan luka luka itu hanya akan dapat terobati ketika kita banyak memaafkan.

Diantara cara-cara untuk lebih mempertajam rasa dan perasaan adalah dengan melakukan tarbiyah ruhiyah.

Beberapa Tarbiyah ruhiyah yang dapat kita lakukan di antaranya adalah mahabbatullah, atau semakin mencintai Allah. Karena cinta kepada Allah akan menyebabkan kita menjadi pecinta kepada makhluk makhluk Allah.

Kemudian banyak-banyak dzikrullah, karena dzikrullah itu adalah cara untuk menghidupkan hati kita

Yang ketiga, adalah melakukan tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Jiwa yang bersih akan menjadi jiwa yang peka, menjadi jiwa yang perasa.

Jangan juga lupa : rajin-rajin untuk melakukan ibadah nafilah sesuai dengan pilihan dan kecenderungan kita.

Sempatkan diri kita untuk melakukan qiyamul Lail, kemudian menjalani kehidupan bersama orang-orang shaleh, karena perasaan orang-orang sholeh itu juga akan memancar dan menular kepada kita.

Dan yang terakhir jangan lupa senantiasa menjadi Ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati, yang ketika dia disapa dan diejek oleh orang-orang bodoh dia kan menjawabnya dengan jawaban-jawaban keselamatan : Salaamaa

Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas khilaf 🙏.  Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

*HEbAT Community Aceh*
*Banda Aceh, 17 Juli 2018*

💐💐💐💐💐💐💐💐Pemateri: Ust Adriano Rusfi
Tema:  *Madrasatul Walidain  4*
*"Mengasah rasa dan perasaan"*

Admin: Ummu Rahiel/ Bunda Cut
Host : Bunda Ira
Co host: Ummu Rahiel
Notulen: Bunda Puput

🎓 Profil

👤 Nama : Adriano Rusfi
🔹Tempat & Tanggal Lahir: Bukit tinggi, 4 Maret 1964
🔹Pendidikan Terakhir: Psikologi, UI
🔹Domisili: Yogyakarta
🔹Ayah dari 4 orang anak
🔹SME Utama HEbAT Community

🔻Aktivitas Beliau antara lain :
* 1989 – 1992  Pimpinan Umum Majalah Wanita UMMI
* 1994 – 1995  Ka. Div Program P3UK
* 1995 – 1998  Direktur Program Sinergi Indonesia
* 1998 – 2002  Direktur Program INVENTRA
* 2002 – 2004   Direktur Utama PT. Sajadah Edutama Indonesia
* 2005 – 2007   Learning Manager PT. NSI Edukomunikasi
* 1995 – skrng  Konsultan SDM & Pendidikan independen
* 2000 - sekarang Konsultan Senior @PPSDM Consultant
* Anggota Dewan Pakar Masjid Salman ITB

📗*Materi*📗

Bunda sekalian, salah satu kekuatan utama yang dimiliki oleh para Bunda adalah rasa dan perasaan. Jika nalar dan pemikiran adalah aset generik kaum laki-laki, maka sebenarnya yang lebih luar biasa lagi adalah kepemilikan atas aset rasa dan perasaan.

Orang-orang yang lemah dalam rasa dan perasaan akan memiliki sejumlah masalah dalam hidup ini. Mereka menjadi tumpul dalam mencium aura. Andai kita memiliki penciuman dan perasaan yang tajam, sungguh kita dapat merasakan auranya orang jahat, auranya orang baik, auranya orang tulus, aura orang-orang yang memiliki hidden agenda, dan sebagainya

Mungkin banyak diantara kita yang kurang paham bahwa penolakan terhadap sang penista agama bukan semata-mata karena ia kafir dan bersuku Tionghoa, tapi lebih banyak disebabkan karena pancaran aura psikologisnya begitu tak sedap untuk dicium. Dalam bahasa agama, aura tersebut dinamakan sebagai ruh atau spirit.

Kemudian, dengan perasaan yang tajam kita bahkan bisa merasakan sesuatu yang janggal, atau sesuatu yang tak pantas yang dilakukan di sekitar kita. Mungkin Secara indrawi kita tak dapat mengetahuinya, tapi dengan menggunakan rasa kita bisa mencium dan mengantisipasinya.

Misalnya ketika tetangga di sebelah kita ternyata adalah orang-orang yang berniat buruk untuk menebar teror. Bisa saja mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, tapi ketajaman rasa akan membuat kita bisa mengetahui sesuatu yang tak baik di balik tembok.

Rasa juga sangat berguna pada saat panca indra kita tak dapat lagi diandalkan. Misalnya, saat malam gelap dan kita harus mencari sesuatu yang hilang. Saat itu kita tak dapat lagi menggunakan mata, tapi kita masih bisa mengandalkan rasa. Pada saat kita pilek, mungkin kita tak bisa mencium bau busuk. Tapi percayalah, rasa yang tajam masih bisa menggantikan hidung yang pilek.

Di sisi lain, ketika kita telah menumpulkan rasa dan perasaan kita akibatnya adalah kita gagal merasakan, tak punya perasaan, atau bahkan hilang kepekaan.

Rasa dan perasaan sangat berguna dalam hidup ini untuk membaca tanda-tanda dan isyarat-isyarat semesta. Karena sebagian besar informasi semesta kepada kita adalah lewat tanda dan isyarat. Sedangkan tanda dan isyarat itu seringkali tidak dapat kita tangkap lewat panca indra. Kita hanya bisa menangkapnya lewat rasa.

Kedua, rasa dan perasaan dapat kita gunakan pada fase-fase pra logika. Sebelum logika dapat kita gunakan untuk memahami sesuatu, maka sebenarnya merasa sudah dapat kita andalkan untuk memahaminya.

Banyak Orang beranggapan bahwa benar dan salah adalah urusan logika. Padahal dalam banyak hal benar dan salah itu dapat kita rasakan. Kadang-kadang kita bisa menyaksikan bahwa dengan logika orang dapat menyampaikan argumentasi argumentasi yang ia sebut sebagai kebenaran. Tapi kita dapat merasakan :  walaupun pendapat tersebut penuh dengan argumentasi perasaan kita mengatakan ada yang tak tepat dari pernyataan dan argumentasinya

Yang ketiga, dalam hidup ini kita sebenarnya menjalaninya lewat kepercayaan dan keyakinan. Kita makan di sebuah restoran karena kita yakin makanan didalamnya tak beracun. Ketika kita naik kendaraan kita yakin bahwa kendaraan itu baik dan akan membawa kita ke tujuan. Ketika kita duduk disebelah orang lain, kita sebenarnya bermodal yakin bahwa orang tersebut bukan orang jahat.

Kemudian yang keempat, dengan perasaan kita jadi memiliki kepekaan dan sensitifitas terhadap sesuatu. Kita bahkan bisa memberi tanpa diminta, memenuhi kebutuhan sebelum diucapkan. Kita dapat membaca bahasa tubuh  raut muka  tatapan mata, dan sebagainya. Sehingga dengan rasa kita menjadi lebih responsif dan lebih antisipatif.

Perasaan dapat membuat kita terhindar dari marabahaya. Ketika kita memiliki ketajaman rasa untuk melakukan antisipasi atas sesuatu yang akan terjadi

Dan pada akhirnya terlalu banyak dalam hidup ini hal-hal yang bersifat non empirik dan materialistik. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan lebih tepat kita sikapi dengan rasa dan perasaan.

📖 *Pertanyaan dan diskusi*

1⃣ *Merie di ulee* kareng(anak 2 tahun)
Suka banget nyakar2 muka yg gendong, dan suka cakar kawan mainnya yg lebih pendiam atau yg usianya dibawah dia, sudah dibilang berkali2 untuk sayang sama sesama tapi tetap seperti itu juga belum ada perubahan, bagaimana cara menumbuhkan *rasa* sayang itu?
Apakah dengan hukuman boleh? Hukuman seperti apa?

*Ust. Adriano Rusfi*
Pada dasarnya anak yang berusia 2 tahun perilakunya lebih banyak dipengaruhi oleh contoh-contoh yang ada di sekitarnya. Dia juga berkembang menjadi agresif karena ada ketidakseimbangan di dalam dirinya

Oleh karena itu yang pertama kali harus dikembangkan rasanya  terutama rasa sayang  adalah lingkungan terdekatnya, terutama kedua ayahbundanya.

Terkadang anak yang berusia 2 tahun menampilkan perilaku agresif lebih karena berkembangnya konsep diri dan egonya. Biasanya pada anak semacam ini agresivitas itu akan memudar dengan sendirinya.

Agresivitas pada anak berusia 2 tahun juga dapat saja disebabkan karena kecemburuannya terhadap saudaranya sendiri, baik kakaknya maupun adiknya. Ia merasa terabaikan atau mendapatkan saingan, sehingga memunculkan perilaku-perilaku marah dalam bentuk agresi terhadap orang lain

Apakah anak semacam ini dapat dimarahi atau dihukum  ?

Secara umum belum dapat. Namun jika fitrah ayah dan bunda mulai merasa jengkel terhadap perilakunya, maka silakan dimarahi. Tapi tidak perlu menggunakan hukuman-hukuman yang bersifat fisik.

Sedangkan hal terbaik yang dapat dilakukan adalah : penuhilah rumah kita dengan rasa cinta

2⃣ *Laila, pango raya*
1.Gimana cara mengasaha RASA kita dan anak usia 3 thn.

2.Gimana cr bedain rasa dan prasangka😊

*Ust. Adriano Rusfi*
1. Mengasah rasa anak adalah dengan mengijinkannya untuk mengembangkan kekayaan rasanya. Untuk menjadi manusia yang ekspresif, biarkan ia tertawa ketika senang, menangis ketika sedih, geram ketika kecewa, marah terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak adil. Ini adalah bagian dari pendidikan untuk memperkaya rasanya.

Rasa anak juga akan menjadi lebih kaya, kalau kita sebagai orang tua juga mengekspresikan rasa kita terhadap mereka dan lingkungan. Jangan menjadi orang tua robot yang selalu menyimpan rasa dan tak berani mengekspresikannya. Ayahbunda yang baik adalah ayahbunda yang marah jika memang merasa perlu untuk marah, senang jika memang merasa perlu untuk senang, mau mengucapkan terima kasih ketika ada hal baik yang ia terima, dan seterusnya. Termasuk berkata jangan kepada anak, ketika dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya

2. Prasangka adalah bagian dari rasa, dan itu adalah hal yang positif untuk dikembangkan. Namun yang harus kita kembangkan adalah baik sangka, bukan buruk sangka

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada materi pendahuluan di atas  prasangka adalah sesuatu yang bersifat pra-logika, dan itu adalah bagus. Tinggal bagaimana kedepannya kita lebih mampu mengembangkan sangka-sangka yang positif alias baik sangka.

Untuk mengasuh rasa pada diri sendiri, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, jangan pernah terlalu bergantung kepada panca indera. Dalam banyak kesempatan cobalah gunakan rasa sebelum menggunakan panca indra. Terkadang tutuplah mata kita agar kita mengakses lingkungan hanya dengan rasa

Kita juga bisa memanfaatkan malam untuk mengasah rasa. Karena pada saat itu mata kita tak terlalu tajam berfungsi. Kemudian rajin-rajinlah melakukan kontemplasi, perenungan,penghayatan terhadap sebuah peristiwa. Orang yang rajin melakukan kontemplasi rasanya akan baik. Makanya Islam menyatakan malam hari adalah saat yang tepat untuk melatih jiwa.

Selanjutnya kita juga dapat menjadikan kulit kita sebagai panca indra sekaligus alat perasa kita. Mari kita rasakan saat kulit kita merinding, saat bulu roma kita berdiri, dan sebagainya

Hal lain yang dapat kita lakukan adalah membiasakan diri untuk membaca tanda-tanda dan isyarat isyarat semesta. Kebiasaan untuk melakukan hal ini akan membuat rasa dan perasaan kita menjadi lebih peka.

Lalu beraktivitaslah di alam bebas, melalui kegiatan berkemah, outbound, penjelajahan dan sebagainya. Di alam bebas rasa kita lebih terasah

Jangan juga dilupakan bahwa rasa dapat dikembangkan lewat bahasa. Mereka,-mereka yang bahasanya bagus, tutur katanya santun, bahkan menguasai bahasa sampai level sastra, akan memiliki rasa dan perasaan yang baik.

Dan yang terakhir : sering-seringlah bersentuhan dengan dunia seni, karena dunia seni adalah dunia yang sangat mendidik rasa

3⃣ *Mely, Ulka.*

Bagaimana memenej prasangka.Kadang kala bagi orang yang deleberative nya tinggi kerap berpangsangka yg tidak baik duluan. Meski hal itu tidak terlanjur untuk disampaikan pada orang lain, tapi sering mengganggu emosional nya sendiri.

*Ust. Adriano Rusfi*
Prasangka itu merupakan bagian dari rasa. Dia bersumber dari hal yang satu, kemudian dia berkembang menjadi baik sangka dan buruk sangka.

Itu lebih tergantung dari nilai-nilai yang kita miliki. Jika nilai-nilai yang kita miliki positif, maka yang berkembang adalah baik sangka. Namun jika nilai-nilai yang kita miliki adalah negatif, maka yang berkembang adalah buruk sangka.

Jadi sekali lagi, bukan rasa dan prasangkanya yang harus kita benahi, tapi bagaimana nilai-nilai itu terbentuk dalam diri kita.

Nilai-nilai yang positif dan negatif itu juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman hidup kita, dan kesimpulan kita terhadap pengalaman tersebut itu. Maka membangun prasangka yang positif harus kita mulai dari :

Pertama : berbaik sangka kepada Allah

Kedua berbaik sangka kepada diri sendiri, dan

Yang ketiga : berbaik sangka terhadap kehidupan

4⃣ *Laila_Ateuk Jawo*

1.Bagaimana mengajarkan anak sulung mengelola ego-nya?.
Ego ingin dihargai, dinomorsatukan, kompetitif?.

2. Wajarkah jika sebagai ibu yg peka "rasa" kita pernah luka oleh sikap dan kata ananda?. Walaupun dalam hati kecil kita menghiba pada   Rabb kita bahwa sesungguhnya kita Ridho pada ananda?.
Atau si ibu yg baperan?

*Ust. Adriano Rusfi*
1. Jika si sulung usianya masih dibawah 7 tahun, biarkan dia mengekspresikan egonya. Jika egonya memang berlebihan, biarkan dia berinteraksi dengan ego-ego orang lain, termasuk dengan ego orangtua dan saudara-saudaranya sendiri.

Ingin dihargai  dinomorsatukan, kompetitif, bukankah pada dasarnya itu adalah hal yang positif. Jangan sampai kita merusak ego anak yang berusia dibawah 7 tahun, karena ego tersebut kelak sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya diri, berani tampil beda, tandang ke gelanggang walau seorang,  mampu berkata tidak, mempengaruhi orang lain dan sebagainya.

Seorang ibu yang peka rasa adalah wajar, bahkan kepekaannya itu perlu ditularkan kepada anak-anaknya. Karena rasa sangat penting bagi masa depan anak-anak kita dalam menjalani kehidupannya

Ada perasaan terluka terhadap sikap anak kepada kita adalah hal yang wajar. Dan kalau perlu kita ekspresikan rasa terluka tersebut.

Tapi jangan lupa juga : betapa kita juga sering sadar atau tak sadar telah melukai anak-anak kita. Akan sangat berbahaya ketika luka itu kita ciptakan saat dia berada di bawah 5 tahun.

Oleh karena itu, belajarlah memaafkan, agar kita pun dimaafkan. Tak tertutup kemungkinan luka yang kita buat jauh lebih banyak daripada luka yang kita terima.

Dan luka luka itu hanya akan dapat terobati ketika kita banyak memaafkan.

Diantara cara-cara untuk lebih mempertajam rasa dan perasaan adalah dengan melakukan tarbiyah ruhiyah.

Beberapa Tarbiyah ruhiyah yang dapat kita lakukan di antaranya adalah mahabbatullah, atau semakin mencintai Allah. Karena cinta kepada Allah akan menyebabkan kita menjadi pecinta kepada makhluk makhluk Allah.

Kemudian banyak-banyak dzikrullah, karena dzikrullah itu adalah cara untuk menghidupkan hati kita

Yang ketiga, adalah melakukan tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Jiwa yang bersih akan menjadi jiwa yang peka, menjadi jiwa yang perasa.

Jangan juga lupa : rajin-rajin untuk melakukan ibadah nafilah sesuai dengan pilihan dan kecenderungan kita.

Sempatkan diri kita untuk melakukan qiyamul Lail, kemudian menjalani kehidupan bersama orang-orang shaleh, karena perasaan orang-orang sholeh itu juga akan memancar dan menular kepada kita.

Dan yang terakhir jangan lupa senantiasa menjadi Ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati, yang ketika dia disapa dan diejek oleh orang-orang bodoh dia kan menjawabnya dengan jawaban-jawaban keselamatan : Salaamaa

Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas khilaf 🙏.  Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

*HEbAT Community Aceh*
*Banda Aceh, 17 Juli 2018*

💐💐💐💐💐💐💐💐

Share:

Rabu, 18 Juli 2018

Workshop ustadz Harry Santosa

Hari ini, alhamdulilah...
Hari ini akhirnya workshop dan seminar ustadz Harry digelar juga di Purwokerto. Acara digelar pukul 09.00 di rumah makan Kemangi

Share:

Selasa, 17 Juli 2018

Kullwap Bahasa Kasih

Malam ini di wag Rumah Bintang sedang berlangsung kuliah WA tentang bahasa kasih.
Kali ini narasumber nya adalah pak Era Sugiarso. Saya mengenal bahas kasih pertama kali dari beliau. Dan dapat saya lihat bagaimana mahir nya beliau mempraktekan bahasa kasih ini pada istri dan anak semata wayangnya.
Sungguh indah.
Hal itulah yang membuat saya mengundangnya mengisi kullwap di Rumah Bintang.
Sampai catatan ini saya buat, kullwap masih berlangsung. Member masih bersemangat bertanya tentang bahasa kasih dan penerjemahannya sehari hari.

Share:

Senin, 16 Juli 2018

Fitrah Keimanan part 1

Hari ini hari pertama membahas tentang Fitrah keimanan. Dan iniblah yang menjadi penbahasan kami hari ini

🎋🍂 *Penulis: _Ust. ADRIANO RUSFI_* 🍂🎋

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya. Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba, homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz “Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”, bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya ???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Share:

Jangan Terjebak Passion dan Kesombongan

**Jangan Terjebak Passion dan Kesombongan**
Piala dunia 2018 sudah usai, tim favorit saya Perancis akhirnya juara, setelah dalam babak final mengalahkan Kroasia 4-2. Banyak pelajaran dari dua kesebelasan ini yang bisa kita petik. Dari tim Perancis saya belajar “jangan terjebak passion” dari tim Kroasia saya belajar “jangan terjebak kesombongan”.

Sang pelatih Didier Claude Descamps sebenarnya memiliki passion sebagai pemain rugbi. Ia dilahirkan di Bayone pada 15 Oktober 1968. Di kota ini sebagian besar penduduknya sangat menyenangi rugbi. Descamps pun ingin menjadi pemain rugbi yang hebat, sehingga setiap usai sekolah ia selalu bermain rugbi. Ia pun akhirnya ikut seleksi menjadi pemain rugbi, namun sang pelatih mencoretnya karena tinggi tubuhnya tidak sampai 170 cm.

Di tengah kekecewaannya, ia beralih berlatih sepak bola di klub yunior Nantes, olah raga yang tidak mensyaratkan tinggi badan. Olah raga baru bagi Descamps, olah raga yang bukan menjadi passionnya namun sangat bersahabat dengan kemungilan tubuhnya. Dan ternyata, Descamps bersama timnya meraih banyak gelar juara.

Dia pernah membawa Perancis juara dunia tahun 1998, saat ia menjadi pemain. Dan 20 tahun kemudian, ia membawa Perancis menjadi juara dunia, sebagai pelatih di tim biru ini. Ia juga membawa Perancis juara Eropa. Berkibar bersama Marseille, Juventus, Chelsea. Andai Descamps kecil terjebak dan ngotot dengan passionnya serta enggan beralih ke hal baru, mungkin jalan hidupnya tidak seindah seperti sekarang.

Apakah passion tidak penting? Penting, tetapi kita tidak boleh mendewakannya. Kita perlu melihat banyak sisi, peluang, tradisi, dan akal sehat. Jangan terjebak dan ngotot dengan passion, saudaraku. Hidup ini seni, penuh warna, dinamis dan terus berubah. Itulah pelajaran dari tim Perancis.

Sementara dari tim Kroasia, saya belajar dari dipulangkannya Nicola Kalinic oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan enggan diturunkan ke lapangan pada menit ke 85 saat Kroasia melawan Nigeria. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangku cadangkan. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu.

Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Ia menyerahkan tiket pesawat perjalanan Rusia ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan, pasukan Kroasia yang semula 23 orang menjadi 22 orang saja. Tentu ini memberatkan tim, apalagi Kroasia sering bermain dengan perpanjangan waktu.

Saat dipulangkan, kesombongan Kalinic semakin menjadi-jadi, ia unggah foto-fotonya saat ia sedang berwisata. Ia yakin, tanpa dirinya, tim Kroasia tidak akan melaju terlalu jauh. Faktanya, tim Kroasia terus melangkah bahkan hingga babak final. Meski hanya memperoleh medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Apalagi permainan Kroasia di babak final sangat memukau, meskipun akhirnya harus mengakui keunggulan Perancis.

Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak, jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan tim Kroasia. Mungkin ada satu orang yang sangat menyesal karena ia tidak ikut di dalamnya, satu orang itu bernama Nicola Kalinic. Kesombongannya membuat namanya tidak tercantum dalam deretan “pahlawan” Kroasia. Kesombangan itu benar-benar merugikan bahkan pada akhirnya bisa menjatuhkan martabat seseorang.

Jangan terjebak passion.
Jangan terjebak kesombongan.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer

Share:

Minggu, 15 Juli 2018

Gagal Merasakan apakah berarti tidak sensitif?

Resume Diskusi Santai tapi Serius Forum Femininitas Bunda
10 juli 2018

Moderator : Bu Rita

Bu Rita : Saya menyimak penuturan di video bahwa kegagalan merasa akan menyebabkan bebetspa hal,  salah satunya *gagal merasakan*
Apakah artinya sama dengan *tidak sensitif*?

Bang aad : Ada dua hal yang dapat terjadi pada orang yang gagal merasakan :

Pertama  tidak sensitif merasakan dan,

Yang kedua,  tidak akurat merasakan

Bu Rita : Tidak akurat.... Berarti jika praduga sering meleset,  ini kode keras ya Ust,  indikator femininitas kita melemah😅

Bang aad : Betul...

Artinya, tidak akurat itu bisa berwujud pada kedalaman perasaan kita yang tidak kuat

Contoh : permasalahan orang lain itu bobotnya 20, tapi yang kita rasakan hanya 10

Artinya kita telah mampu merasakan, tapi tak akurat merasakannya

Bu Noni: Melanjutkan pertanyaan ummi @⁨Bu Rita New⁩ Ustadz...
Bagaimana kalo kita kelewat "merasakan" alias kelewat sensitif... Orang lain sering kali memandangnya justru kita menjadi orang yang "negatif thingking"
Padahal bukan mendoakan kejadiannya... Hanya melihat yang oranglain tidak lihat... Tapi pada akhirnya menjadi kenyataan...

Bagaimana menyikapi hal ini ustadz agar kita tidak di pandang orang menjadi orang yang selalu negatif thinking...

Karna meski kejadiannya anggaplah buruk...orang lain baru menyadarinya bertahun2 kemudian...

bang aad : Berempati atau merabarasakan perasaan dan permasalahan orang lain, pada dasarnya bukan dalam rangka sekadar untuk merasakan apalagi kemudian sekadar membahas permasalahan, tapi dalam rangka kepedulian dan turut membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Seharusnya jika sensitifitas perasaan tersebut diwujudkan dalam bentuk empati dan kepedulian, maka tidak akan ada kesan negative thinking dari orang lain.

Oleh karena itu kepekaan perasaan kita terhadap realitas orang lain jika tak dapat kita wujudkan dalam bentuk bantuan, maka setidak-tidaknya kita wujudkan dalam bentuk doa.

Oleh karena itu berempati juga menjadi sesuatu yang harus terkendali agar dia tidak berkembang menjadi diskusi dan gosip semata

Yuli : Ketika firasat dan kepekaan kita berbenturan dgn aturan dan syariat mana yg sebaiknya diprioritaskan ustadz..??

Bang aad : Manusia yang hati dan perasaannya peka dan terlatih, bahkan hatinya dapat menjadi sumber fatwa

Rasulullah SAW bersabda :

"Minta fatwalah pada hatimu. Sesungguhnya kebaikan itu adalah apa-apa yang hati tenang dibuatnya dan jiwa tentram karenanya".

Bahkan dalam satu hadits yang lain Rasulullah menyatakan bahwa jika fatwa-fatwa para ulama tak menentramkanmu maka bertanyalah pada hatimu

Namun demikian, di sisi lain hati juga tempat setan berbisik dan menggoda manusia

Oleh karena itu, mari kita membersihkan hati kita, sehingga dia bisa menjadi tempat fatwa bagi kita, yang tak akan bertentangan dengan nilai-nilai syariah. Bahkan fatwa hati dapat lebih tinggi daripada fatwa fiqh.

Kita juga harus meluruskan pemahaman-pemahaman kita terhadap sejumlah istilah, agar jangan sampai kita menggunakan istilah yang keliru untuk maksud yang baik. Tentunya dorongan hawa nafsu tak dapat kita nyatakan sebagai firasat 🙈

Ida Ayu: Bismillah, mengenai mengasah empati dan peduli. Saya membandingkan pasangan muda dengan arus teknologi dari awal berhubungan pasti lebih banyak virtual chat, telpon dll sehingga lebih diam saat bertemu dan sibuk dengan gadgetnya..

Di lain sisi saya lihat pasangan tua yg menikah zaman dulu yang LDM jarang komunikasi virtual tapi saat bertemu begitu perhatian dan khidmat pada suami..

Apakah komunikasi virtual dengan niat peduli dan menumbuhkan empati itu berfungsi dengan baik?

bang aad : Yang membuat empati itu terjadi adalah ketika terjadinya sambung rasa. Oleh karena itu maka rasa harus bertemu dengan rasa

Bertemunya rasa dengan rasa itu disebabkan oleh kedekatan jarak, tatapan mata, kepedulian yang tinggi.

Komunikasi virtual memang juga dapat membangun empati, Jika memang hubungan itu jarak jauh. Namun demikian jika ketergantungan kita dengan komunikasi virtual begitu tinggi, ia bahkan malah mampu mematikan rasa. Karena komunikasi virtual yang dilakukan lewat telepon itu akan memiliki dampak sambung rasa yang berbeda dengan komunikasi virtual yang dilakukan lewat SMS atau chatting.

Alhasil bagi sebuah pasangan muda yang harus dibangun untuk menguatkan empati dan sambung rasa adalah kedekatan fisik. Kalau toh kita harus berinteraksi dengan menggunakan WA dan sebagainya, maka gunakanlah bahasa-bahasa yang juga menggunakan pendekatan hati, seperti pendekatan sastra, prosa dan sebagainya.

Menggunakan emoticon itu juga bagian dari melatih ekspresi emosi. ✅
Sedikit tambahan :  anak-anak yang di bawah usia 7 tahun rajin mendapatkan sentuhan sentuhan dan kedekatan fisik dari ayahbundanya, seperti dipeluk, diusap dimandikan,  dusuapi dan sebagainya, akan menjadi anak-anak yang kelak memiliki rasa dan empati yang bagus

Oleh karena itu jangan terburu-buru mendidik kemandirian pada anak di bawah 7 tahun. ✅

lisyar'i: Trimakasih bun Rita,

Assalamualaikum ust, Ada kasus seseorang yang tidak  kasihan atau prihatin terhadap kecelakaan yang menimpa temannya hanya karena orang yang bersangkutan merasa bahwa dia bukanlah penyebab kecelakaan temannya tersebut.

Mohon penjelasan dari fenomena diatas ust? Apakah berarti orang tersebut masih bisa merasa atau perasaannya tumpul sebab rasa takut yang lebih besar?  🙏🏻

bang aad :  Nah orang yang semacam ini saya rasa adalah orang yang telah mengalami defisit nurani.

Dia mengalami defisit nurani karena berpikir dan bersikap terlalu rasional : bahwa masalah yang menimpa orang lain bukan disebabkan oleh dirinya

Hal ini juga disebabkan oleh pendidikan kemandirian yang keliru dari orang tuanya. Mereka mungkin dididik untuk tak mengganggu orang lain, sekaligus tak ingin diganggu oleh orang lain.

Mereka diajar berlebihan untuk independen. Padahal dalam hidup ini yang dibutuhkan adalah interdependen, saling ketergantungan. ✅

Nifah: 1. Dipertemuan ke 5 kmrn bang aad menyampaikan kalau empati itu melelahkan, dan perubahan itu dilakukan oleh orang yg berempati.

Bila berempati ini melelahkan,lalu kita harus bagaimana ustadz?

kadang saya juga merasakan lelah tp saya ingin ada perubahan🙈🙈

2. Masih seputar materi#5. Di slide materi#5 tentang " orang tua tak kunjung bahagia" bang aad kan menyampaikan kisah bang aad yg ngajak ibu bang aad makan direstoran, tp ternyata bukan hal itu yg bikin ibu bahagia melainkan berkunjung kerumah kerabat yg ada di Bandung.

ini ada kasus seperti ini bang👇🏻👇🏻

Saya punya orangtua yang kegemarannya makan di resto, wisata ke luar negeri, dan hal2 yang semacam itu. Selama ini beliau mendapatkannya dari saudara beliau yang memang sering mentraktir banyak orang bukan hanya ibu saya.
Bagaimana saya harus bersikap teh, sedangkan hal2 yang bisa saya berikan sering dianggap remeh oleh orangtua saya dan malah dibanding2kan dengan apa yang beliau pernah dapatkan.

Sikap anak harus bagaimana ya bang?

Bu Rita : Pertanyaan teh Nifah yg no 1 mirip kasus anak saya.  Seiring bertambah usia empati nya makin kuat.  Kelas 4 awal sudah sangat kelelahan menyimak bullying di sekitar nya saat sekolah.
Pulang sekolah seperti makin capek  bahkan kesininya sampai psichosomatis tiap mau berangkat sekolah . Sampai ujung pagar halaman,  lari ke rumah langsung masuk toilet 😓
Akhirnya homescooling.

bang aad : 1. Berempati itu memang melelahkan, tapi harus kita lakukan. Karena empati itu adalah salah satu jalan yang akan membawa kita ke surga.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda : "bukanlah golonganku orang-orang yang tidak berempati dengan urusan umat muslim"

Dalam empati saya, saya bahkan sering gelisah, sering tak bisa tidur, sering uring-uringan dan sebagainya. Tapi justru perasaan-perasaan itu yang membuat saya berpikir dan akhirnya melahirkan solusi dan karya-karya.

2. Kegemaran orang tua itu tak selalu sama dengan kebahagiaan orang tua. Orang tua bisa saja gemar berjalan-jalan, tapi lebih berbahagia jika dia dihubungi, ditanya ditelepon, dipedulikan dan sebagainya.

Pada dasarnya kebahagiaan itu justru sumber terbesarnya adalah dari perhatian yang tulus, bukan dari hal-hal yang bersifat material. Banyak kasus dalam kehidupan ini di mana orang tua begitu menghargai kepedulian-kepedulian yang sederhana dari anaknya, daripada fasilitas-fasilitas yang sangat memanjakan. Sekilas memang orang tua terkesan senang dengan fasilitas-fasilitas tersebut, tapi dalam hatinya belum tentu seperti itu.

Betapa banyaknya orang tua yang sangat terharu kepada anaknya yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, dari pada anak yang terlambat mengucapkan selamat ulang tahun, walaupun memberikan hadiah yang sangat mahal. ✅

Nifah: syukron ustadz

betul bang memang kalau aku lagi ada ide kepengin bikin acara, sampe tidur g nyenyak, kebawa pikiran terus tp yaitu memang melahirkan ide baru😄😄😄 dan g kapok🙈

Bu Rita : Keputusan kami menjauhkan anak dari *beban empati* terhadap korban bullying sudah tepat kah Ust?  Usianya waktu itu 9 th.
Waktu konsul ke psikolog (konsul online),  sebenarnya saran solusinya bukan dijauhkan.
Setelah homeschooling program pertama nya merawat tanaman, maksud saya menyalurkan enetgi empatinya.
*solusi sotoy emaknya😆

bang aad new: Saya rasa usia 9 tahun sudah perlu untuk memiliki beban-beban empati terhadap lingkungannya, apalagi terhadap korban bullying karena kelak Iapun boleh jadi akan menjadi korban bullying. Karena di usia 10 tahun bahkan dia sudah memiliki tanggung jawab sosial
Kalau toh ingin membangun empati lewat interaksi dengan makhluk lain, maka interaksi dengan binatang sebenarnya lebih mampu membangun empati daripada dengan tumbuhan

Nifah: terus bang, kalau orang yang ber-empati tapi takut melakukan perubahan, ini masuknya baru simpati ya bang?

Bang aad : Betul banget. Atau baru empati rasional 😀

Padahal empati itu emosional. Dari hati,  bukan dari otak.
Mari bedakan antara *empati dengan paham* . Wujudnya seringkali mirip. Padahal empati itu dari hati, dan paham itu dari otak

Share:

Tawaran Menjadi EO Camping Forum Femininitas

Dalam salah satu materi forum femininitas ada satu tugas yang banyak belum dikerjakan oleh teman teman. Yaitu tugas camping keluarga. Rupanya banyak juga yang merasa berat.
Dalam percakapan grup iseng iseng saya menawarkan Baturaden sebagai alternatif pilihan. Dan ternyata bersambut baik oleh beberapa teman.
Bahkan ustadz Adriano Rusfi pun siap hadir.
Wah tantangan menarik nih.
Pasti bukan suatu kebetulan. Apalagi keluarga kami memang sudah merencanakan untuk berkemah di akhir Agustus. Tentu saja kami siap menerima tawaran tersebut.
Ustadz minta tanggal 19 Agustus 2018. Dan bahkan teh Nifah memperbolehkan grup Rumah Bintang untuk turut serta. Alhamdulillah...
Tawaran menarik, dan kami siap memberi pelayanan terbaik...

Share:

Sabtu, 14 Juli 2018

Market Day

Hari ini di grup Rumah Bintang beririsi teman2 yang berjualan.Market day...
Macam macam yang dijual...

Di rumah, Ghazy hari ini masuk kelas Liqo nya untuk prtama kali

Share:

Untuk seseorang yang Tak Lagi Kurindu

Untuk Seseorang yang Tak Lagi Kurindu...

Mengingatmu kini tak lagi ada rasa
Tak jua memiliki asa
Tersisa hanya sebuah nama
Yang dulu pernah aku puja

Rupanya cinta hanya belaka
Jatuh seperti daun melayang terbawa
Kelam layaknya rembulan tertutup jelaga
Menghilang layaknya debu yang diseka

Biarlah hilang...
Namamu menghilang
Biarlah tak kembali
Aku tak lagi peduli

Rupanya inilah jawaban dari doa doa malamku
Membuangmu jauh dari dalam kalbu
Hingga tak lagi ada luka sembilu
Mengingatmu kini tak lagi terdengar haru

#nulisyuk
#nulisyukbatch11 

Share:

Jumat, 13 Juli 2018

Aliran rasa ku

Saya juga mau aliran rasa ya..

Sesungguhnya saya mengenal FBE sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Berawal dari dicempkungkan secara tidak berperikemanusiaan oleh seorang kawan pada sebuah grup fbe.🤭

Selain itu juga saya sering stalking juga sih di MLC.

Akan tetapi, ya hanya sekedar saja ternyata. Hanya oh oh oh..dan berakhir pada oh...

Sudah selesai😁

Apakah ada perubahan di rumah?

Ada perubahan, jadi makin panik. Makin takut, makin merasa gak bisa. Makin merasa ah saya sih apa. Kayak kerupuk aja. Habis dijejek. Gak bisa ngapa2in.

Apalagi kalo liat share orang tua lain yg keren2 gtu. Adeeuh...

Makin parah.

Liat suami...

Lebih merasa hancur lagi.

Tiap kali kita bicara ttg idealisme parenting, suami malah mencibir dan menertawakan.
Susah banget pokoknya. Gak jalan aja.

Bahkan sempet juga dilarang tuh ikut2an kounitas macem2 gtu. Wong istrinya tambah nyebelin kalo pulang dr acara. Pasti jadi aneh, panikan, cerewet, idealis, dan gak banget pokoknya...

Hingga akhirnya.....

_(Bersambung masih panjang)_

Share:

Mengisi maturity level 3 Fitrah Keimanan

Hari ini saya mencoba memberi test sesuai dengaan maturity level 3 bagian fitrah keimanan pada ibu ibu di rumah bintang. Dan ternyata hasiln...

Diberdayakan oleh Blogger.

sudah dibaca sebanyak...

Cari Blog Ini

Arsip Blog

it's me...

it's me...

Institut Ibu Profesional

Institut Ibu Profesional

Label

Arsip Blog

Theme Support